Selasa, 19 April 2016

Chained Up

Chained Up pt.1
Genre : Gangsteran :v,school life,slice of life,romance,straight (;A;)
Rate  : K (untung adegan pertarungan)
Warning: Typo,alur gaje,perlu otak dengan IQ tinggi untuk baca ini,
Summary     : Tak disangka,Iblis ungu bisa jatuh cinta juga,dengan orang biasa lagi. –kau tak akan menemukan kehidupan normalmu lagi- “Tolong aku”
Info nyempil : Watashi no Seigan hiatus dulu,buntu ;A;)
                                                                                                                          
Tukk.. aku melempar bungkus permen yang baru kuambil isinya kesembarang arah. “Woi! Jangan buang sampah sembarangan disini!” teriakan itu menarik perhatianku,saat aku menoleh..
“Re—ina..”
Terdengar oleh telingaku suara serak yang keluar dari mulutnya yang setengah terbuka. “Tak akan kuulangi” ucapku cepat. “Lupakan” orang tadi berbalik dan pergi.
Sambil menenteng plastik besar berisi beberapa lukisan,aku berjalan menuju sebuah toko pengrajin. Aku akan terus hidup seperti ini,bukankah hidup seperti ini lebih baik daripada mati?
Persetan dengan orang yang mengataiku sebagai orang yang membosankan dan segala macamnya,setidaknya hidupku tak semembosankan mereka. Mau ini tinggal minta,mau itu tinggal minta,hidupku bisa dibilang lebih baik daripada bajingan-bajingan itu. Dan lebih berguna tentunya..haha.

“Terimakasih” aku mengambil beberapa ikat uang berwarna merah lalu berangkat kesekolah. Aku selalu melukis dan menjual hasil lukisanku dengan harga tinggi kemana saja,asal tempat itu mau menerima lukisanku.
Siapa aku? Kau belum tau? Aku..
“Reina..?!”
“apa yang kau lakukan lagi Reina?!” seorang yang lebih tua memisahkan perkelahian antara yang lebih muda.
“Dia meludahi sepatuku” jawab Reina sambil memberikan tatapan tak suka kearah seorang laki-laki yang wajahnya dipenuhi memar.
“Tapi ini keterlaluan,kembali ke kelasmu sekarang!” kata yang memisahkan sambil membawa korban Reina ke UKS.
Disekeliling area itu sudah ramai berkumpul murid-murid satu sekolah Reina,memberikan tatapan tak suka,jijik dan beberapa ada yang tersenyum.
Reina pun berjalan menembus kerumunan manusia itu,mereka semua langsung memberi jalan.

Saat Reina melewati lorong sekolah,para murid langsung menatapnya,antara tatapan kagum dan heran. Kagum karna Reina adalah bintang sekolah dan heran karena pagi-pagi lengan seragamnya sudah digulung keatas,punggung tangannya yang berdarah,dan rambut yang disanggul yang biasanya digerai.
Reina,seorang murid genius di sekolah elit,seorang pelukis sekaligus anggota gangster yang bernama Razzier.

Sebagai seorang murid genius,ia ‘terkadang’ tampil baik disekolah,menjadi bintang sekolah salah satunya,karna dia memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang bagus mungkin? Dan jangan lupa rambut hitam-ungunya yang selalu digerai saat disekolah.
Sebagai pelukis dia bisa disetarakan dengan pelukis professional,kalau ia mau,ia sekarang bisa membeli apartemen tingkat 5 dengan uangnya sendiri atau berkeliling dunia seumur hidupnya. Tetapi karna ia adalah seorang genius pasti akan memakai uangnya dengan hati-hati.

Sebagai seorang anggota dari gangster,ia jarang menghadiri pertemuan,walau begitu, gangsternya tak pernah menegur ataupun mengancam akan mengeluarkan Reina dari gangsternya,karna dia juga seorang..sebut saja petarung terbaik? Paling ia akan datang saat gangsternya sudah disudutkan oleh gangster lain.
Gangster lain memanggilnya dengan sebutan Iblis ungu dari Razzier,karna rambutnya yang ia warnai setengah ungu dan semua benda Reina serba ungu.
Kehidupan sekolah Reina masih normal,sebagai murid yang dikagumi dan ditakuti sekaligus,ia tak pernah sombong,ia hanya bersikap…dingin.
Suatu hari,Razzier menggelar duel satu lawan satu dengan gangster lain,karna belum pernah ikut,Reina datang awal ketempat dimana duel itu dilaksanakan.

“Sudah kuduga kau akan datang kali ini Reina,persiapkan dirimu,pastikan kau menang” kata pemimpin Razzier sambil menepuk-nepuk pundak Reina,yang ditepuk pundaknya hanya mengangguk.
Ia melihat banyak anggota Razzier saling bercanda atau pemanasan,sedangkan Reina sendirian,walau jarak mereka dekat,tetapi Reina lebih suka sendiri.
Ia pun melepas sanggul rambutnya sebentar dan mengacak-ngacak rambutnya sedikit.

“Wahh lihat,ada gadis kecil yang tersesat disini,penjaga,tolong antarkan gadis ini pulang” kata seorang lelaki sambil melihat Reina.

Penjaga yang dipanggil hanya melirik sebentar lalu mengalihkan pandangan.
Sedangkan lelaki tadi berjalan mendekati Reina. “Mau apa kau ? pergi dari hadapanku pengganggu” kata Reina sambil menatap jijik lelaki tadi.

“Wah,ternyata dia berani juga ya,Kutantang kau duel nanti!!” teriak lelaki tadi. Para gangster yang didalam ruangan itu langsung menoleh kearah lelaki yang menantang Reina.
“Apa kau sudah gila?” tanya seseorang. “Ya! Aku sudah gila menantang gadis kecil tersesat yang kurang ajar ini” jawab lelaki itu.
Satu ruangan luas itu langsung dipenuhi oleh tawa. “Bro! kau dari gangster mana?” tanya pemimpin Razzier,Fuku.

Seseorang langsung mengacungkan tangannya,dan menyeret lelaki yang menantang Reina tadi keluar ruangan (sebut saja aula).

“Maafkan anggota kami Reina,dia baru” kata seseorang. Reina pun melihat orang itu dari atas sampai ujung kakinya. “Oh,kalian pengguna katana ya? Tak apa,lagian dia baru juga kan” jawab Reina.

Reina benar-benar diperlakukan seperti Ratu kalau sudah di dunia gangster,jangan ditanya lagi,dia petarung terbaik,perempuan lagi.
.
.
Pertarungan pun dimulai,Reina sama sekali tak mengalihkan pandangannya kemana pun selain di area pertarungan,memerhatikan setiap orang yang menggerakkan senjatanya ataupun menggeram kesal. Seakan-akan dia seorang komentator fashion yang akan mengomeli korbannya dengan kata-kata pedasnya.
Saat laki-laki menjengkelkan tadi pun tiba.
“Aku menantang.. Reina dari Razzier!” teriaknya penuh percaya diri. “Kau mau mati ya?” tanya pemimpin gangsternya. “Kau memanggil malaikat mautmu” Reina maju kedalam arena pertarungan.

Reina menyanggul rambutnya lagi,melilitkan kain di tangannya dan menyiapkan sebilah belati berukir mawar di mata pisaunya.

“Hanya menggunakan pisau? Aku menggunakan Katana lho” kata lelaki yang menantangnya sambil menodongkan Katananya. “Sudah kubilang,kau memanggil malaikat mautmu” jawab Reina.

Seisi aula langsung tertawa,saling berbisik,dan menatap lelaki yang menantang Reina dengan tatapan tidak suka.

Tenggg,bel pun berbunyi,lelaki tadi menyerang duluan,sedangkan Reina hanya menatapnya sambil memasang tampang poker face.

Saat sebilah katana hampir mengenai dirinya,Reina langsung menghindar,menyandung kaki penantangnya hingga tersungkur. Lalu menginjak tangan lawannya sehingga  lawannya itu melepaskan senjatanya.

Reina yang melihat lawannya yang sudah terbaring di lantai itu langsung berjongkok. Reina menendang jauh-jauh katana yang digunakan penantangnya tadi. Diraihnya rambut basah karna keringat lawannya itu,ditariknya hingga kepalanya terangkat.

“Kau belum siap mati,malaikat mautmu akan datang saat kau memanggil lagi” kata Reina tersenyum sambil mengacungkan belatinya yang mengkilap dikenai efek lampu.
Lawannya yang sudah tak bisa apa-apa hanya meringis kesakitan. Lawannya itu segera disingkirkan oleh petugas disitu.

Reina kembali berdiri lalu menyimpan kembali belatinya.
“Malaikat mautmu menjemput saat kau memanggilnya!!” teriak Reina,diikuti oleh sorakan gangster Razzier.
Itulah yang menjadi ciri khas Reina selain rambut ungunya,ia akan berteriak dengan kata-kata khasnya setelah menang melawan orang yang menantangnya.
(***)
Kringg… bunyi terkutuk bagi setiap pendengarnya…bunyi itu terus berdering,hingga sang pemilik membantingnya ke lantai dengan setengah sadar.

“uh?Huh?” Reina bangkit duduk,berusaha membuka matanya yang memberontak itu,dan berusaha mencerna apa yang terjadi. Setelah melihat sebuah jam beker yang pecah dilantai,ia paham apa yang terjadi. Dia memecahkannya.lagi.

Hari ini dia akan sekolah dengan normal,walaupun masih diserang kantuk karna pertarungan semalam dan juga karna dia harus menempel beberapa plester luka di wajah,lengan dan kaki putihnya itu. Ditambah harus memakai syal karna hari ini lumayan dingin
Ditengah perjalanan,ia menghidupkan handphone nya dan menyetel beberapa lagu sambil memakai earphone. Menurutnya itu sarapan terbaiknya.

Saat turun dari kereta api,ia berjalan menuju sekolahnya. Tampak gedung bertingkat 4 dengan halaman seluas stadium,itu adalah sekolahnya,SMP Kuroi Pearl. Nama yang aneh untuk sekolah ya?

Reina masih menunggu rambu-rambu pejalan kaki berwarna hijau,tiba-tiba ada seseorang berlari disampingnya,berlari menuju jalan raya yang penuh kendaraan melaju cepat. Dengan cepat pula seseorang tadi tertabrak hingga terpental menuju pagar pembatas jalan.
Reina yang melihat kejadian mengenaskan itu didepan matanya,segera menarik earphone nya dan berlari menuju korban tabrakan itu.

Dilihatnya orang yang tertabrak tadi,tampaknya kakak kelas sekolah lain,soalnya dia memakai seragam SMA. *Apa yang dilakukan anak SMA di sini? Didaerah sini kan tak ada SMA?* pikir Reina
Orang itu benar benar terluka parah,tampak dari atas keningnya mengalir darah dan beberapa sobekan di seragamnya,sedangkan tasnya masih tergantung di bahunya.

“Hubungi Ambulan cepat!!” teriak Reina ke orang sekitar yang hanya terpaku melihat. Reina segera melepas syalnya dan menekan lukanya agar pendarahannya terhenti sementara.

*kumohon bertahanlahh…* Reina terus berharap,dan terus menekan syalnya di tempat luka orang itu. Sementara itu,sang korban sedang pingsan,terdengar suara ambulan dari kejauhan.
.
.
Sebagai seorang saksi jelas kecelakaan itu,Reina harus mengurus beberapa hal dengan polisi,menjelaskan kejadian rincinya,karna ia benar-benar terlambat kesekolah,ia menitip surat ke polisi untuk sang korban kecelakaan itu.

Ia pun berlari menuju sekolah,absen, dan segera masuk ke kelas.
Grekk.. bunyi suara pintu kelas di geser. “Permisi..” Reina masuk ke kelasnya. Tampak sang guru sudah memulai pelajarannya.
“Ada apa Reina? Kenapa bisa terlambat? Dan kenapa lengan dan rokmu ada bercak darah?” tanya gurunya sambil memberi tatapan interogasi.

“Tadi..saya habis menolong orang yang kecelakaan” jawab Reina sambil melihat lengan dan roknya, “Cepat bersihkan dan kembali ke kelas” kata gurunya.
Reina pun keluar kelas lagi untuk mencuci darah itu dan segera berlari lagi ke kelas.
.
.
Kruuukk..
Perut Reina benar-benar kosong sejak pagi,dan istirahat ini ia ingin mencetak rekor makan siang terbanyak di sekolahnya.

“Um..Ramen nya 1,onigiri nya 3,dan 5 tusuk dango ya” kata Reina sambil tersenyum kearah ibu kantin. Sambil menunggu makanannya disiapkan,dia melihat-lihat,tempat duduk yang masih kosong disebelah mana.

Setelah pesanannya sudah jadi semua,ia duduk di tempat yang kosong.

Jika murid-murid lain melihatnya seperti ini mungkin mereka akan berpikir kalau Reina bosan mempunyai badan bagus atau sedang galau. Tapi Reina benar-benar lapar sekarang.

Saat ia sedang makan ramen,seseorang menghampiri mejanya. Sambil membawa nampan,ia bertanya “boleh aku duduk disini?”. reina hanya mengangguk dan melanjutkan makannya.

Orang itu duduk di hadapan Reina,ia membuka mulut hendak bertanya kenapa Reina memesan banyak sekali makanan. “Aku lapar” kata Reina tiba-tiba. Ah,rupanya Reina sudah tau kalau ia akan menanyakan makanan.

“Kalau kau penasaran,nama orang itu adalah Kirikawa Yori” kata orang itu tiba-tiba, “Orang yang mana maksudmu?” tanya Reina sambil meletakkan sumpitnya,ia selesai makan ramen.
“Yang kemarin menantangmu” kata orang itu lagi. “Seingatku aku tak pernah bertanya kepada orang sepertimu” kata Reina sambil membuka onigirinya yang pertama.

Orang yang duduk semeja dengan Reina itu adalah Shinkawa Hito,adik dari Shinkawa Fuku,pemimpin Razzier. Hito juga anggota dari Razzier.
“Jahat sekali kau Reina” kata Hito. “Oh,aku ingat,aku dengar tadi kau terlambat kesekolah,dengan lengan dan rok penuh darah,habis bertarung dengan siapa?” tanya Hito. “Arghh,gak penuh darah kok! Lagian aku juga gak habis melawan siapa-siapa” jawab Reina kesal.
“Menurutku kau tak akan masuk dalam buku hukuman,anak genius~~” kata Hito sambil meng-imut-imutkan-mukanya. “Hentikan Hito,orang-orang menatapmu dengan tatapan menjijikan kau tau?” Reina mulai menggigit dango pertamanya.
(***)
Sepulang sekolah Ia benar-benar luang,tugas sekolah tak ada,kerjaan rumah juga tak ada,kegiatan klub juga sedang diliburkan,gangsternya juga sedang tak berkumpul. Ditambah ia pulang cepat hari ini karna hari dingin,jam 1 siang.

Ia pun berpikir untuk menjenguk korban kecelakaan itu,*hari ini benar-benar dingin..* pikir Reina sambil memegang pipinya.
Omong-omong soal dingin,syalnya tadi pagi..untuk menekan pendaharan itu.. sekalian saja ya?
.
.
“Um..korban kecelakaan yang datang sekitar jam 7 lewat tadi pagi.. cowok..pakaian SMA Zakura” kata Reina ke resepsionis. “Oh ada diruangan A-31” jawab resepsionis.
Reina pun bergegas menuju ruangan yang diberitahu resepsionis itu,untung saja ia tak perlu tersesat dirumah sakit untuk mencari ruangan A-31.

Grekk.grekk.. digesernya pintu ruangan yang bertuliskan A-31. “Permisi..” Reina masuk kedalamnya. Tampak seorang lelaki memakai pakaian rumah sakit duduk diselimuti selimut putih,perban dikepalanya dan sedang membaca secarik kertas.

“Oh sudah sadar rupanya?” tanya Reina sambil mendekat. “Um..apa kau yang menolongku?” tanya laki-laki itu. Reina mengangguk “Terima kasih ya,ini surat darimu kan,maaf sudah merepotkanmu” kata laki-laki itu sambil tersenyum.

Reina hanya mengangguk sebentar,menatap wajah laki-laki itu..ia tak menyadari tadi pagi kalau wajah lelaki itu lumayan..tampan. mungkin karna ditutupi oleh darah.

“Oh..um..aku Hana Reina,panggil Reina saja,SMP Kuroi Pearl” kata Reina memperkenalkan diri. “Reina..?? aku tak asing mendengar nama itu? Namaku Kirikawa Yoshi,panggil Yoshi saja,SMA Zakura” balas Yoshi.

“Ya..namaku pasaran sih kayaknya” kata Reina. Ia juga sebenarnya pernah mendengar nama Kirikawa Yoshi,tapi ia lupa dimana dan kapan.
.
.
Perbincangan antara Reina dan Yoshi berlangsung lama dan berujung Reina mengantarkan Yoshi pulang. Ternyata luka yang diderita Yoshi tak terlalu parah hingga sorenya ia sudah diperbolehkan untuk pulang.

“Jadi..kau tinggal sendiri?” tanya Reina. “Sebenarnya aku tinggal bersama kakak laki-lakiku,tapi dia…kabur dari rumah,membawa katana milikku,dia itu.benar-benar….” Yoshi mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Hah? Siapa nama kakakmu?” Reina makin penasaran. Rasa penasaran Reina membuat Yoshi menceritakan masalah keluarga nya yang kaya,orang kaya punya masalahnya sendiri-sendiri kan? Berujung mereka tinggal berdua,karna kakaknya yang terbiasa hidup mewah,ia kabur dari rumah.

“Maaf membuatmu menceritakannya” kata Reina menunduk sedih. “tak apa,aku lega karna sudah menceritakannya ke orang lain” jawab Yoshi.

Setelah mendengar cerita Yoshi,sekarang Reina ingat kenapa ia tak asing mendengar nama keluarga Yoshi,kirikawa. Itu adalah nama dari orang yang menantangnya pada pertandingan satu lawan satu malam itu. Kirikawa Yori.

“Kenapa tadi pagi kau berlari seperti dikejar setan seperti itu?” tanya Reina. “Uh..suatu malam kakakku pulang,tangan kanannya berdarah dan bengkak,kakinya juga sakit sampai membengkak,wajahnya juga banyak luka lebam aku bertanya kepadanya ada apa,dia bilang dia dihajar oleh gadis SMP dengan tangan kosong,tentu saja aku tak percaya,gadis macam apa itu? Gadis jadi-jadian? Melawan kakakku yang membawa katana? Katanya dia sih dari SMP kuroi Pearl dan petarung terbaik di gangster Razzier” Yoshi tertawa sebentar.
Reina terpaksa tertawa..ya..itu dia..yang menghajar kakaknya Yoshi,dan apa apaan itu? Reina dikatakan gadis jadi-jadian? Ingin ia melempar Yoshi ke tengah jalan lagi agar tertabrak sambil tertawa puas.
Tapi sebentar.. apa tadi Yoshi bilang?? Yori itu tau dimana Reina bersekolah? Kesialan macam apa ini.
Saat sampai di depan rumah yang sederhana..
“Terima kasih untuk semuanya Reina” Yoshi membungkuk tanda terimakasih. “Ah,tidak apa----“ Reina langsung terpaku saat melihat sosok yang dari tadi dibicarakan oleh Yoshi,Yori berdiri di daun pintu sambil menatap Reina kaget.

“APA INI?!” teriak Yori. Yoshi langsung menoleh ke Yori,kakaknya itu. “eh kenapa? Ini Cuma ketabrak biasa kok” kata Yoshi. “B-bukan..dia..perempuan itu..apa yang dia lakukan disini?!” tanya Yori. “Dia yang menyelamatkanku dari kecelakaan kak,memang kenapa?” tanya Yoshi.

Reina hanya bisa terdiam,ia tak bisa kabur sekarang. “Tak mungkin! Dia adalah Iblis Ungu ! Dia adalah gadis yang membuatku seperti ini!” seru Yori. Yoshi pun ikut kaget dan langsung menoleh kearah Reika yang sedang menunduk dan mengepalkan tangannya.

“Maafkan aku,tapi itu bukan salahku,kakakmu yang menantangku untuk bertarung satu lawan satu,itu adalah salahnya” kata Reina. Ia pun segera berlari pergi meninggalkan Yoshi yang perlu penjelasan sepanjang tembok cina.

*reina? Gadis baik hati itu adalah petarung terkuat yang menghajar kakakku pengguna katana?!* pikir Yoshi,ingin ia bersemedi di dalam gua sendirian sambil mencerna apa yang telah terjadi.
(***)
Reina versi kebelet wkwk+versi gangster