Chained Up pt.1
Genre :
Gangsteran :v,school life,slice of life,romance,straight (;A;)
Rate : K (untung adegan pertarungan)
Warning: Typo,alur gaje,perlu otak dengan IQ tinggi untuk baca ini,
Rate : K (untung adegan pertarungan)
Warning: Typo,alur gaje,perlu otak dengan IQ tinggi untuk baca ini,
Summary :
Tak disangka,Iblis ungu bisa jatuh cinta juga,dengan orang biasa lagi. –kau tak
akan menemukan kehidupan normalmu lagi- “Tolong aku”
Info nyempil : Watashi no Seigan hiatus dulu,buntu ;A;)
Tukk.. aku melempar bungkus permen yang baru kuambil isinya kesembarang
arah. “Woi! Jangan buang sampah sembarangan disini!” teriakan itu menarik
perhatianku,saat aku menoleh..
“Re—ina..”
Terdengar oleh telingaku suara serak yang keluar dari mulutnya yang
setengah terbuka. “Tak akan kuulangi” ucapku cepat. “Lupakan” orang tadi
berbalik dan pergi.
Sambil menenteng plastik besar berisi beberapa lukisan,aku berjalan
menuju sebuah toko pengrajin. Aku akan terus hidup seperti ini,bukankah hidup
seperti ini lebih baik daripada mati?
Persetan dengan orang yang mengataiku sebagai orang yang membosankan
dan segala macamnya,setidaknya hidupku tak semembosankan mereka. Mau ini
tinggal minta,mau itu tinggal minta,hidupku bisa dibilang lebih baik daripada
bajingan-bajingan itu. Dan lebih berguna tentunya..haha.
“Terimakasih” aku mengambil beberapa ikat uang berwarna merah lalu
berangkat kesekolah. Aku selalu melukis dan menjual hasil lukisanku dengan
harga tinggi kemana saja,asal tempat itu mau menerima lukisanku.
Siapa aku? Kau belum tau? Aku..
“Reina..?!”
“apa yang kau lakukan lagi Reina?!” seorang yang lebih tua memisahkan
perkelahian antara yang lebih muda.
“Dia meludahi sepatuku” jawab Reina sambil memberikan tatapan tak suka
kearah seorang laki-laki yang wajahnya dipenuhi memar.
“Tapi ini keterlaluan,kembali ke kelasmu sekarang!” kata yang
memisahkan sambil membawa korban Reina ke UKS.
Disekeliling area itu sudah ramai berkumpul murid-murid satu sekolah
Reina,memberikan tatapan tak suka,jijik dan beberapa ada yang tersenyum.
Reina pun berjalan menembus kerumunan manusia itu,mereka semua langsung
memberi jalan.
Saat Reina melewati lorong sekolah,para murid langsung
menatapnya,antara tatapan kagum dan heran. Kagum karna Reina adalah bintang
sekolah dan heran karena pagi-pagi lengan seragamnya sudah digulung keatas,punggung
tangannya yang berdarah,dan rambut yang disanggul yang biasanya digerai.
Reina,seorang murid genius di sekolah elit,seorang pelukis sekaligus
anggota gangster yang bernama Razzier.
Sebagai seorang murid genius,ia ‘terkadang’ tampil baik
disekolah,menjadi bintang sekolah salah satunya,karna dia memiliki wajah yang
cantik dan tubuh yang bagus mungkin? Dan jangan lupa rambut hitam-ungunya yang
selalu digerai saat disekolah.
Sebagai pelukis dia bisa disetarakan dengan pelukis professional,kalau
ia mau,ia sekarang bisa membeli apartemen tingkat 5 dengan uangnya sendiri atau
berkeliling dunia seumur hidupnya. Tetapi karna ia adalah seorang genius pasti
akan memakai uangnya dengan hati-hati.
Sebagai seorang anggota dari gangster,ia jarang menghadiri
pertemuan,walau begitu, gangsternya tak pernah menegur ataupun mengancam akan
mengeluarkan Reina dari gangsternya,karna dia juga seorang..sebut saja petarung
terbaik? Paling ia akan datang saat gangsternya sudah disudutkan oleh gangster
lain.
Gangster lain memanggilnya dengan sebutan Iblis ungu dari Razzier,karna
rambutnya yang ia warnai setengah ungu dan semua benda Reina serba ungu.
Kehidupan sekolah Reina masih normal,sebagai murid yang dikagumi dan
ditakuti sekaligus,ia tak pernah sombong,ia hanya bersikap…dingin.
Suatu hari,Razzier menggelar duel satu lawan satu dengan gangster
lain,karna belum pernah ikut,Reina datang awal ketempat dimana duel itu
dilaksanakan.
“Sudah kuduga kau akan datang kali ini Reina,persiapkan dirimu,pastikan
kau menang” kata pemimpin Razzier sambil menepuk-nepuk pundak Reina,yang
ditepuk pundaknya hanya mengangguk.
Ia melihat banyak anggota Razzier saling bercanda atau
pemanasan,sedangkan Reina sendirian,walau jarak mereka dekat,tetapi Reina lebih
suka sendiri.
Ia pun melepas sanggul rambutnya sebentar dan mengacak-ngacak rambutnya
sedikit.
“Wahh lihat,ada gadis kecil yang tersesat disini,penjaga,tolong
antarkan gadis ini pulang” kata seorang lelaki sambil melihat Reina.
Penjaga yang dipanggil hanya melirik sebentar lalu mengalihkan
pandangan.
Sedangkan lelaki tadi berjalan mendekati Reina. “Mau apa kau ? pergi
dari hadapanku pengganggu” kata Reina sambil menatap jijik lelaki tadi.
“Wah,ternyata dia berani juga ya,Kutantang kau duel nanti!!” teriak
lelaki tadi. Para gangster yang didalam ruangan itu langsung menoleh kearah
lelaki yang menantang Reina.
“Apa kau sudah gila?” tanya seseorang. “Ya! Aku sudah gila menantang
gadis kecil tersesat yang kurang ajar ini” jawab lelaki itu.
Satu ruangan luas itu langsung dipenuhi oleh tawa. “Bro! kau dari gangster mana?” tanya
pemimpin Razzier,Fuku.
Seseorang langsung mengacungkan tangannya,dan menyeret lelaki yang
menantang Reina tadi keluar ruangan (sebut saja aula).
“Maafkan anggota kami Reina,dia baru” kata seseorang. Reina pun melihat
orang itu dari atas sampai ujung kakinya. “Oh,kalian pengguna katana ya? Tak
apa,lagian dia baru juga kan” jawab Reina.
Reina benar-benar diperlakukan seperti Ratu kalau sudah di dunia
gangster,jangan ditanya lagi,dia petarung terbaik,perempuan lagi.
.
.
Pertarungan pun dimulai,Reina sama sekali tak mengalihkan pandangannya
kemana pun selain di area pertarungan,memerhatikan setiap orang yang
menggerakkan senjatanya ataupun menggeram kesal. Seakan-akan dia seorang
komentator fashion yang akan mengomeli korbannya dengan kata-kata pedasnya.
Saat laki-laki menjengkelkan tadi pun tiba.
“Aku menantang.. Reina dari Razzier!” teriaknya penuh percaya diri. “Kau
mau mati ya?” tanya pemimpin gangsternya. “Kau memanggil malaikat mautmu” Reina
maju kedalam arena pertarungan.
Reina menyanggul rambutnya lagi,melilitkan kain di tangannya dan
menyiapkan sebilah belati berukir mawar di mata pisaunya.
“Hanya menggunakan pisau? Aku menggunakan Katana lho” kata lelaki yang
menantangnya sambil menodongkan Katananya. “Sudah kubilang,kau memanggil
malaikat mautmu” jawab Reina.
Seisi aula langsung tertawa,saling berbisik,dan menatap lelaki yang
menantang Reina dengan tatapan tidak suka.
Tenggg,bel pun berbunyi,lelaki tadi menyerang duluan,sedangkan Reina
hanya menatapnya sambil memasang tampang poker
face.
Saat sebilah katana hampir mengenai dirinya,Reina langsung
menghindar,menyandung kaki penantangnya hingga tersungkur. Lalu menginjak
tangan lawannya sehingga lawannya itu melepaskan
senjatanya.
Reina yang melihat lawannya yang sudah terbaring di lantai itu langsung
berjongkok. Reina menendang jauh-jauh katana yang digunakan penantangnya tadi.
Diraihnya rambut basah karna keringat lawannya itu,ditariknya hingga kepalanya
terangkat.
“Kau belum siap mati,malaikat mautmu akan datang saat kau memanggil
lagi” kata Reina tersenyum sambil mengacungkan belatinya yang mengkilap dikenai
efek lampu.
Lawannya yang sudah tak bisa apa-apa hanya meringis kesakitan. Lawannya
itu segera disingkirkan oleh petugas disitu.
Reina kembali berdiri lalu menyimpan kembali belatinya.
“Malaikat mautmu menjemput saat kau memanggilnya!!” teriak
Reina,diikuti oleh sorakan gangster Razzier.
Itulah yang menjadi ciri khas Reina selain rambut ungunya,ia akan
berteriak dengan kata-kata khasnya setelah menang melawan orang yang
menantangnya.
(***)
Kringg… bunyi terkutuk bagi setiap pendengarnya…bunyi itu terus
berdering,hingga sang pemilik membantingnya ke lantai dengan setengah sadar.
“uh?Huh?” Reina bangkit duduk,berusaha membuka matanya yang memberontak
itu,dan berusaha mencerna apa yang terjadi. Setelah melihat sebuah jam beker
yang pecah dilantai,ia paham apa yang terjadi. Dia memecahkannya.lagi.
Hari ini dia akan sekolah dengan normal,walaupun masih diserang kantuk
karna pertarungan semalam dan juga karna dia harus menempel beberapa plester
luka di wajah,lengan dan kaki putihnya itu. Ditambah harus memakai syal karna
hari ini lumayan dingin
Ditengah perjalanan,ia menghidupkan handphone nya dan menyetel beberapa
lagu sambil memakai earphone. Menurutnya itu sarapan terbaiknya.
Saat turun dari kereta api,ia berjalan menuju sekolahnya. Tampak gedung
bertingkat 4 dengan halaman seluas stadium,itu adalah sekolahnya,SMP Kuroi
Pearl. Nama yang aneh untuk sekolah ya?
Reina masih menunggu rambu-rambu pejalan kaki berwarna hijau,tiba-tiba
ada seseorang berlari disampingnya,berlari menuju jalan raya yang penuh
kendaraan melaju cepat. Dengan cepat pula seseorang tadi tertabrak hingga
terpental menuju pagar pembatas jalan.
Reina yang melihat kejadian mengenaskan itu didepan matanya,segera
menarik earphone nya dan berlari menuju korban tabrakan itu.
Dilihatnya orang yang tertabrak tadi,tampaknya kakak kelas sekolah
lain,soalnya dia memakai seragam SMA. *Apa yang dilakukan anak SMA di sini?
Didaerah sini kan tak ada SMA?* pikir Reina
Orang itu benar benar terluka parah,tampak dari atas keningnya mengalir
darah dan beberapa sobekan di seragamnya,sedangkan tasnya masih tergantung di
bahunya.
“Hubungi Ambulan cepat!!” teriak Reina ke orang sekitar yang hanya
terpaku melihat. Reina segera melepas syalnya dan menekan lukanya agar
pendarahannya terhenti sementara.
*kumohon bertahanlahh…* Reina terus berharap,dan terus menekan syalnya
di tempat luka orang itu. Sementara itu,sang korban sedang pingsan,terdengar
suara ambulan dari kejauhan.
.
.
Sebagai seorang saksi jelas kecelakaan itu,Reina harus mengurus
beberapa hal dengan polisi,menjelaskan kejadian rincinya,karna ia benar-benar
terlambat kesekolah,ia menitip surat ke polisi untuk sang korban kecelakaan
itu.
Ia pun berlari menuju sekolah,absen, dan segera masuk ke kelas.
Grekk.. bunyi suara pintu kelas di geser. “Permisi..” Reina masuk ke
kelasnya. Tampak sang guru sudah memulai pelajarannya.
“Ada apa Reina? Kenapa bisa terlambat? Dan kenapa lengan dan rokmu ada
bercak darah?” tanya gurunya sambil memberi tatapan interogasi.
“Tadi..saya habis menolong orang yang kecelakaan” jawab Reina sambil
melihat lengan dan roknya, “Cepat bersihkan dan kembali ke kelas” kata gurunya.
Reina pun keluar kelas lagi untuk mencuci darah itu dan segera berlari
lagi ke kelas.
.
.
Kruuukk..
Perut Reina benar-benar kosong sejak pagi,dan istirahat ini ia ingin
mencetak rekor makan siang terbanyak di sekolahnya.
“Um..Ramen nya 1,onigiri nya 3,dan 5 tusuk dango ya” kata Reina sambil
tersenyum kearah ibu kantin. Sambil menunggu makanannya disiapkan,dia
melihat-lihat,tempat duduk yang masih kosong disebelah mana.
Setelah pesanannya sudah jadi semua,ia duduk di tempat yang kosong.
Jika murid-murid lain melihatnya seperti ini mungkin mereka akan
berpikir kalau Reina bosan mempunyai badan bagus atau sedang galau. Tapi Reina
benar-benar lapar sekarang.
Saat ia sedang makan ramen,seseorang menghampiri mejanya. Sambil
membawa nampan,ia bertanya “boleh aku duduk disini?”. reina hanya mengangguk
dan melanjutkan makannya.
Orang itu duduk di hadapan Reina,ia membuka mulut hendak bertanya
kenapa Reina memesan banyak sekali makanan. “Aku lapar” kata Reina tiba-tiba.
Ah,rupanya Reina sudah tau kalau ia akan menanyakan makanan.
“Kalau kau penasaran,nama orang itu adalah Kirikawa Yori” kata orang
itu tiba-tiba, “Orang yang mana maksudmu?” tanya Reina sambil meletakkan
sumpitnya,ia selesai makan ramen.
“Yang kemarin menantangmu” kata orang itu lagi. “Seingatku aku tak
pernah bertanya kepada orang sepertimu” kata Reina sambil membuka onigirinya
yang pertama.
Orang yang duduk semeja dengan Reina itu adalah Shinkawa Hito,adik dari
Shinkawa Fuku,pemimpin Razzier. Hito juga anggota dari Razzier.
“Jahat sekali kau Reina” kata Hito. “Oh,aku ingat,aku dengar tadi kau
terlambat kesekolah,dengan lengan dan rok penuh darah,habis bertarung dengan
siapa?” tanya Hito. “Arghh,gak penuh darah kok! Lagian aku juga gak habis
melawan siapa-siapa” jawab Reina kesal.
“Menurutku kau tak akan masuk dalam buku hukuman,anak genius~~” kata
Hito sambil meng-imut-imutkan-mukanya. “Hentikan Hito,orang-orang menatapmu
dengan tatapan menjijikan kau tau?” Reina mulai menggigit dango pertamanya.
(***)
Sepulang sekolah Ia benar-benar luang,tugas sekolah tak ada,kerjaan
rumah juga tak ada,kegiatan klub juga sedang diliburkan,gangsternya juga sedang
tak berkumpul. Ditambah ia pulang cepat hari ini karna hari dingin,jam 1 siang.
Ia pun berpikir untuk menjenguk korban kecelakaan itu,*hari ini
benar-benar dingin..* pikir Reina sambil memegang pipinya.
Omong-omong soal dingin,syalnya tadi pagi..untuk menekan pendaharan
itu.. sekalian saja ya?
.
.
“Um..korban kecelakaan yang datang sekitar jam 7 lewat tadi pagi..
cowok..pakaian SMA Zakura” kata Reina ke resepsionis. “Oh ada diruangan A-31”
jawab resepsionis.
Reina pun bergegas menuju ruangan yang diberitahu resepsionis
itu,untung saja ia tak perlu tersesat dirumah sakit untuk mencari ruangan A-31.
Grekk.grekk.. digesernya pintu ruangan yang bertuliskan A-31. “Permisi..”
Reina masuk kedalamnya. Tampak seorang lelaki memakai pakaian rumah sakit duduk
diselimuti selimut putih,perban dikepalanya dan sedang membaca secarik kertas.
“Oh sudah sadar rupanya?” tanya Reina sambil mendekat. “Um..apa kau
yang menolongku?” tanya laki-laki itu. Reina mengangguk “Terima kasih ya,ini
surat darimu kan,maaf sudah merepotkanmu” kata laki-laki itu sambil tersenyum.
Reina hanya mengangguk sebentar,menatap wajah laki-laki itu..ia tak
menyadari tadi pagi kalau wajah lelaki itu lumayan..tampan. mungkin karna
ditutupi oleh darah.
“Oh..um..aku Hana Reina,panggil Reina saja,SMP Kuroi Pearl” kata Reina
memperkenalkan diri. “Reina..?? aku tak asing mendengar nama itu? Namaku
Kirikawa Yoshi,panggil Yoshi saja,SMA Zakura” balas Yoshi.
“Ya..namaku pasaran sih kayaknya” kata Reina. Ia juga sebenarnya pernah
mendengar nama Kirikawa Yoshi,tapi ia lupa dimana dan kapan.
.
.
Perbincangan antara Reina dan Yoshi berlangsung lama dan berujung Reina
mengantarkan Yoshi pulang. Ternyata luka yang diderita Yoshi tak terlalu parah
hingga sorenya ia sudah diperbolehkan untuk pulang.
“Jadi..kau tinggal sendiri?” tanya Reina. “Sebenarnya aku tinggal
bersama kakak laki-lakiku,tapi dia…kabur dari rumah,membawa katana milikku,dia
itu.benar-benar….” Yoshi mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Hah? Siapa nama kakakmu?” Reina makin penasaran. Rasa penasaran Reina
membuat Yoshi menceritakan masalah keluarga nya yang kaya,orang kaya punya
masalahnya sendiri-sendiri kan? Berujung mereka tinggal berdua,karna kakaknya
yang terbiasa hidup mewah,ia kabur dari rumah.
“Maaf membuatmu menceritakannya” kata Reina menunduk sedih. “tak
apa,aku lega karna sudah menceritakannya ke orang lain” jawab Yoshi.
Setelah mendengar cerita Yoshi,sekarang Reina ingat kenapa ia tak asing
mendengar nama keluarga Yoshi,kirikawa. Itu adalah nama dari orang yang
menantangnya pada pertandingan satu lawan satu malam itu. Kirikawa Yori.
“Kenapa tadi pagi kau berlari seperti dikejar setan seperti itu?” tanya
Reina. “Uh..suatu malam kakakku pulang,tangan kanannya berdarah dan
bengkak,kakinya juga sakit sampai membengkak,wajahnya juga banyak luka lebam
aku bertanya kepadanya ada apa,dia bilang dia dihajar oleh gadis SMP dengan
tangan kosong,tentu saja aku tak percaya,gadis macam apa itu? Gadis
jadi-jadian? Melawan kakakku yang membawa katana? Katanya dia sih dari SMP
kuroi Pearl dan petarung terbaik di gangster Razzier” Yoshi tertawa sebentar.
Reina terpaksa tertawa..ya..itu dia..yang menghajar kakaknya Yoshi,dan
apa apaan itu? Reina dikatakan gadis jadi-jadian? Ingin ia melempar Yoshi ke
tengah jalan lagi agar tertabrak sambil tertawa puas.
Tapi sebentar.. apa tadi Yoshi bilang?? Yori itu tau dimana Reina
bersekolah? Kesialan macam apa ini.
Saat sampai di depan rumah yang sederhana..
“Terima kasih untuk semuanya Reina” Yoshi membungkuk tanda terimakasih.
“Ah,tidak apa----“ Reina langsung terpaku saat melihat sosok yang dari tadi
dibicarakan oleh Yoshi,Yori berdiri di daun pintu sambil menatap Reina kaget.
“APA INI?!” teriak Yori. Yoshi langsung menoleh ke Yori,kakaknya itu. “eh
kenapa? Ini Cuma ketabrak biasa kok” kata Yoshi. “B-bukan..dia..perempuan
itu..apa yang dia lakukan disini?!” tanya Yori. “Dia yang menyelamatkanku dari
kecelakaan kak,memang kenapa?” tanya Yoshi.
Reina hanya bisa terdiam,ia tak bisa kabur sekarang. “Tak mungkin! Dia
adalah Iblis Ungu ! Dia adalah gadis yang membuatku seperti ini!” seru Yori.
Yoshi pun ikut kaget dan langsung menoleh kearah Reika yang sedang menunduk dan
mengepalkan tangannya.
“Maafkan aku,tapi itu bukan salahku,kakakmu yang menantangku untuk
bertarung satu lawan satu,itu adalah salahnya” kata Reina. Ia pun segera
berlari pergi meninggalkan Yoshi yang perlu penjelasan sepanjang tembok cina.
*reina? Gadis baik hati itu adalah petarung terkuat yang menghajar
kakakku pengguna katana?!* pikir Yoshi,ingin ia bersemedi di dalam gua
sendirian sambil mencerna apa yang telah terjadi.
